GATRANEWS  | BOLA | CARSPLUS |

Walikota Illiza Bersama Warga Saksikan Gerhana Matahari di Gedung TDMRC

09 March 2016
Warga Aceh menyaksikan gerhana matahari usai shalat Subuh (GATRAnews/Teuku Dedi)

Aceh, GATRAnews - Ribuan warga Banda Aceh dan Aceh Besar memadati gedung Tsunami and Disarter Mitigation Research Center (TDMRC) Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Rabu (9/3), menyaksikan langsung gerhana matahari. Walaupun di wilayah Aceh tidak terlihat gerhana matahari total (GMT), namun warga sudah mulai berdatangan ke gedung penyelamatan tsunami itu, usai salat subuh.

Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, juga hadir menyaksikan fenomena langka itu. Gerhana matahari mulai terlihat sekitar pukul 07.00 WIB, karena sebelumnya tertutup awan. Di gedung TDMRC, sudah disediakan lima teleskop dan empat teodolid milik Kantor Wailayah Kementerian Agama Aceh, serta satu unit teropong milik BMKG stasiun Mata Ie.

Untuk warga yang tidak dapat menyaksikan lewat teleskop maupun teodolid, dibagikan kaca film. Namun, ada sebagian dari mereka mengenakan kacamata biasa. Guna mengabadikan momen itu, warga menempelkan kaca film di bagian kamera, baik yang menggunakan perangkap digital maupun handphone.

“Senang bisa melihat gerhana matahari, walaupun tidak total. Karena baru kali bisa melihat langsung,” ujar seorang warga, Fauzan (24), sembari menambahkan dirinya melihat matahari seperti sabit. Fauzan yang sudah di gedung penyelamatan tsunami itu usai salat subuh, mengaku sebelumnya hanya menyaksikan gerhana matahari melalui video di youtube.

Sementara itu, Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal yang sudah ke gedung tersebut usai salat subuh, mengimbau kepada warga untuk tidak berhura-hura dalam saat menyaksikan fenomena yang sudah terjadi di Indonesia 33 tahun lalu itu. “Ini bukanlah tontonan untuk hura-hura, tapi ini merupakan salah satu tanda-tanda hari kiamat,” ungkap Illiza.

Untuk itu, Ia mengajak warga untuk bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk melihat salah satu kebesaran Allah. “Tapi ingat ini bukan wisata dan untuk bersenang-senang karena sangat bertolak-belakang dengan ajaran Islam. Saat gerhana terjadi, Rasulullah SAW bergetar sembari mengucapkan istighfar dan doa. Rasul takut akan datangnya yaumil akhir.”

“Rasulullah lalu melaksanakan Shalat Gerhana dua rakaat yang hukumnya sunnat muakkad (sangat dianjurkan). Mari kita contoh nabi kita, ini momen bagi kita semua untuk bermusahabah, taubat nasuha, dan memperbaiki akhlak,” kata Illiza.

Wali kota kemudian memaparkan lima amalan yang dianjurkan saat terjadinya gerhana. “Pertama Shalat Sunnat dua rakaat, kedua berdoa karena saat gerhana mustajabah. Ketiga zikir dan takbir, tak perlu keras cukup untuk didengar sendiri. Keempat istighfar, dan kelima menyedekahkan harta bagi orang yang gmembutuhkan,” katanya.

“Saya imbau agar kita semua tidak riya. Teruslah beristighfar karena ini salah satu tannda yaumil akhir semakin dekat. Semoga dengan ilmu pengetahuan dapat lebih membuat kita berfikir akan kebesaran Allah SWT. Jangan hanya waktu mengamati gerhana saja kita berbondong-bondong, setelah dari sini mari kita sama-sama melaksanakan Shalat Gerhana Matahari,” ajak Illiza.

Illiza berada di lantai atas Gedung TDMRC hingga puncak gerhana terjadi sekira pukul 07.22 WIB. Selanjutnya dengan berjalan kaki, Illiza bersama-sama warga menuju ke Masjid Baiturrahim yang berjarak sekira 300 meter untuk melaksanakan Shalat Gerhana berjamaah.


Reporter: TDI

Editor: Nur Hidayat