GATRANEWS  | BOLA | CARSPLUS |

Palawa Unpad Gapai Puncak Nemangkawi dengan Zero Waste Mountaineering

11 April 2017

Tim Pendaki Palawa Unpad gapai Puncak Nemangkawi /Cartensz Pyramid, 25 Maret 2017 (Dok GATRAnews/Tim Palawa Unpad)Jakarta, Gatranews - Palawa Unpad berhasil mencapai titik tertinggi Indonesia, Puncak Nemangkawi, dengan misi penerapan konsep zero waste mountaineering dalam pendakian gunung es. Puncak yang merupakan salah satu dari World Seven Summit tersebut berhasil dicapai tim pada Sabtu, 25 Maret 2017 pukul 11.30 WIT. 

 

Selain menerapkan sistem pendakian dengan konsep zero waste mountaineering, tim juga membawa misi untuk mempopulerkan nama lokal dari puncak dengan ketinggian 4884 mdpl (meter dari permukaan laut) tersebut.

 

Puncak Nemangkawi saat ini populer dengan sebutan Puncak Carstensz Pyramid. Namun, puncak tersebut sejatinya memiliki nama lokal “Nemangkawi” yang berasal dari bahasa Suku Amungme. Nama tersebut berarti Panah Putih karena saat nama tersebut diberikan, gunung tersebut memiliki salju di puncaknya.


Pendakian ini dilakukan untuk menuntaskan rangkaian Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi (EPN). Ekspedisi yang bertemakan “Petualangan dan Pendidikan” ini sebelumnya telah mengirimkan tim peneliti Literasi ke Desa Suanggama pada November tahun lalu.

 

Kali ini, tim pendaki yang terdiri dari Ichsan Lovano Pradewa (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), Ronni Robinson Simbolon (Fakultas Ilmu Budaya), Muhammad Ikhsan Rizky (Fakultas Geologi), dan Yandi Romadona (Fakultas Teknologi Industri Pertanian) dikirimkan untuk menuntaskan misi ekspedisi.

 

Salah satu tim pendaki menuturkan bahwa tantangan terbesar dalam pendakian ini adalah ketika berada di ketinggian di atas 4000 mdpl. Tim harus benar-benar mengatur pernapasan karena oksigen yang ada tipis. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa tim perlu banyak istirahat selama pendakian.

 

“Selama pendakian, jalannya pun penuh kabut, jarak pandang mungkin hanya sekitar sepuluh sampai dua puluh meter,” ujar Ronni Robinson kepada Gatranews (11/4).

 

Tim Pendaki Palawa Unpad saat mendaki Puncak Nemangkawi /Cartensz Pyramid, 25 Maret 2017 (Dok GATRAnews/Tim Palawa Unpad)
Tim Pendaki Palawa Unpad saat mendaki Puncak Nemangkawi /Cartensz Pyramid, 25 Maret 2017 (Dok GATRAnews/Tim Palawa Unpad)

Selain oksigen yang tipis, hujan juga senantiasa menemani perjalanan tim selama summit attack. Awalnya hujan air yang turun dari langit hingga tim sampai di awal lintasan panjat.

 

Setelahnya, hujan es turun saat tim mulai menggantungkan keamanan dirinya pada safety line. Hujan es dengan medan yang semakin sulit ini pun menjadi tantangan selama pendakian menuju puncak.

 

Pendakian menuju puncak dimulai dari Basecamp Lembah Kuning. Inilah lokasi tim bermalam dan mendirikan tenda. Berada di ketinggian 4250 mdpl Lembah Kuning menjadi titik terakhir menuju Puncak Nemangkawi. Dari Lembah Kuning menuju puncak, tim butuh waktu pendakian selama tujuh jam.

 

Salah satu pitch yang sulit adalah Kandang Babi. Menurut Ronni, lokasi tersebut bukan benar-benar kandang dengan banyak babi, melainkan celah terbesar di punggungan Nemangkawi dengan jarak kurang lebih dua puluh meter.

 

Ada dua cara untuk melewatinya, menggunakan jembatan tali atau tyrolean. "Tim memilih melewatinya menggunakan sebuah tali sebagai pijakan dan dua buah tali di kanan dan kiri sebagai pengaman," jelasnya.

 

Pendakian Minim Sampah

Dengan menerapkan konsep zero waste mountaineering, pendakian ini sama sekali tidak menghasilkan sampah. Dijelaskannya, konsep tersebut bukan sekadar tidak meninggalkan sampah di gunung, akan tetapi dimulai sejak perencanaan pendakian.

 

Hal yang paling mendasar pada penerapan konsep ini terletak pada manajemen konsumsi. Tim mengurangi barang yang berpotensi menghasilkan sampah dan menggantinya dengan wadah pakai ulang berupa kotak makan atau kantong kain.

 

Selama pendakian setiap anggota tim membawa kotak snack-nya sendiri. Hal tersebut selain sebagai salah satu bentuk penerapan konsep zero waste mountaineering, juga untuk mengefektifkan pergerakan tim saat istirahat. Tim tidak lagi perlu berusaha berlebih untuk membuka bungkusan snack di cuaca dan medan yang ekstrim, terlebih lagi tim tidak menghasilkan sampah di gunung.

 

Sampah di Puncak Nemangkawi atau Cartenz Pyramid, Maret 2017 (Dok GATRAnews/Tim Palawa Undap)
Sampah di Puncak Nemangkawi atau Cartenz Pyramid, Maret 2017 (Dok GATRAnews/Tim Palawa Unpad)

“Kita udah berusaha tidak membawa sampah sama sekali pas pendakian, tapi ternyata di Basecamp Lembah Kuning kita malah nemu banyak banget sampah. Sedih sih. Walau ini gunung tertinggi di Indonesia, ternyata banyak juga sampahnya,” ujar Ronni.

 

Ronni menambahkan ia tak hanya menemukan sampah bungkus makanan, melainkan piring melamin, sendok, gelas, hingga kaleng oxycan dan gas. Hal tersebut senada dengan pendapat atlet lain, Rizky.

 

Ia menuturkan tak hanya menemukan sampah di basecamp, juga di sepanjang jalan menuju puncak. "Sangat disayangkan salah satu gunung yang menjadi destinasi wisata dunia itu kurang terperhatikan kebersihannya," ujar Rizky.


Reporter : Hidayat Adhiningrat P

Editor: Dani Hamdani