GATRANEWS  | BOLA | CARSPLUS |

Wisata Plus Tanggung Jawab Lingkungan

24 March 2017

 Insiden karamnya kapal wisata di Raja Ampat berdampak pada kerusakan ekosistem terumbu karang. Peningkatan akses manusia terhadap kawasan wisata tidak sebanding dengan peningkatan pemahaman dan tanggung jawab.

 

Jumat menjelang tengah malam, 3 Maret lalu, Kapal Caledonian SKY berbendera Bahama dan dinakhodai Kapten Keith Michael Taylor merapat di Desa Yenwaoupnor, Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Kapal yang mengangkut 79 kru kapal serta 102 wisatawan dari berbagai negara itu langsung diperiksa kelengkapan dokumen, dan akhirnya diberi izin menginap semalam.

 

Keesokan harinya, setelah mengelilingi pulau untuk mengamati keanekaragaman burung serta menikmati pementasan seni, para penumpang kembali ke kapal pada siang hari. Kapal pesiar itu kemudian melanjutkan perjalanan ke Bitung. Di tengah perjalanan menuju Bitung, kapal dengan bobot 4.200 gross ton itu menabrak terumbu karang.

 

Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Brahmantya Satyamurti Poerwadi menjelaskan, luasnya kerusakan terumbu sekitar 1.600 meter persegi. Sedangkan detail kerusakannya masih sedang dalam proses oleh tim KKP dan KLHK. ''Pre-eleminary ini nantinya akan dilengkapi data akhir yang akan disampaikan bersama dengan tim gabungan,'' katanya.

 

Rusaknya terumbu karang oleh kapal pesiar Caledonian Sky, menurut KKP, menjadi kerugian besar bagi Indonesia. Dengan total luas lautan sekitar 5,8 juta kilometer persegi, potensi ekonomi kelautan Indonesia sangat besar. Baik di sektor perdagangan, perikanan tangkap laut, keanekaragaman hayati, migas, dan pariwisata.

 

Di sektor perdagangan saja, misalnya, Indonesia merupakan pasar yang menjanjikan dengan total populasi sebanyak 249 juta jiwa ditambah GDP sebesar US$ 868,3 trilyun serta pendapatan per kapita sebesar US$ 3.500. Jumlah populasi yang besar, di sisi lain, juga menjadi modalitas di sektor ekonomi.

 

Deputi I Bidang Kedaulatan Maritim Kemenko Kemaritiman Arif Havas Oegroseno menjelaskan, untuk rehabilitasi karang yang rusak harus melalui analisis kawasan yang terdampak. Pihaknya mengidentifikasi, biodiversitas paling besar ada di laut Sulawesi, Papua, hingga Solomon Island. Selain pemetaan, juga ada pengaturan zonasi.

 

Kemudian, jika sudah ditentukan ada kerusakan, maka akan direstorasi. Misalnya yang dilakukan di Kepulauan Seribu. ''Itu banyak karang yang rusak. Jadi kita meregenerasi,'' katanya. Caranya lewat transplantasi, dengan semen. Selain itu, menempatkan proses pembuatan terumbu karang dengan cara, misalnya, membuat "kaki laba-laba". Karang-karang yang sakit dipindahkan, lalu dibikin kultur jaringan. Kalau sudah sehat dikembalikan.

 

Sementara itu, Marine Protected Area (MPA) Manager World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, Anton Wijonarno, lebih menyoroti soal pentingnya pemahaman wisata dengan tanggung jawab lingkungan. Anton menilai, kerusakan karang dalam insiden di Raja Ampat tergolong sangat parah. ''Kerusakan disebabkan hal mekanis,'' katanya kepada GATRA, Jumat pekan lalu. Koloni karang itu sangat rapuh dan dapat hancur seketika akibat tertabrak/tergerus oleh lunas (bagian terbawah dari kapal) yang terbuat dari benda berat seperti baja/besi.

 

Melihat insiden ini, ia mengingatkan bahwa skema Pembangunan Kawasan Konservasi Perairan (Marine Protected Area) di kawasan-kawasan perairan bernilai penting. Tidak hanya untuk pengelolaan terumbu karang saja, melainkan juga sumber daya kelautan dan perikanan lainnya. Sejak 1984, dia melanjutkan, Indonesia telah memiliki grand design Pengelolaan Kawasan Konservasi Perian melalui peluncuran buku Marine Conservation Data Atlas Indonesia.

 

Namun, massifnya akses wisata turut berperan dalam kerusakan terumbu karang di Indonesia. ''Karena makin banyaknya akses manusia terhadap ekosistem terumbu karang dan praktik pariwisata (terutama bahari) yang tidak bertanggung jawab,'' ia mengungkapkan. Akhirnya, potensi ancaman kerusakan terumbu karang menjadi sangat tinggi.

 


 

Sandika Prihatnala, Fitri Kumalasari, dan M. Afwan Fathul Barry

  

(Tulisan lengkap terbit di Majalah Gatra Nomor 21, 23-29 Maret 2017)