GATRANEWS  | BOLA | CARSPLUS |

Sektor Wisata Lumpuh, Pengelola Curug Cipendok Rugi Ratusan Juta

08 October 2017
Ritual warga di kawasan wisata curug Cipendok di (Gatra/Ridlo Susanto/yus4)

Banyumas, gatracom – Sektor Pariwisata di Lereng Selatan Gunung Slamet, terutama Kawasan Wisata Curug Cipendok, Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, lumpuh total akibat keruhnya aliran sungai. Akibatnya, pengelola wisata rugi ratusan juta rupiah.



Koordinator Pengelola Curug Cipendok, Perum Perhutani Kesatuan Pembangku Hutan (KPH) Banyumas Timur, Kusharto mengatakan, sejak Januari lalu, hampir tak ada wisatawan yang mengunjungi kawasan wisata yang dikenal dengan air terjun raksasanya itu. Dari tiket saja, Curug Cipendok telah rugi Rp 100 juta lebih, dihitung dari angka terkecil pemasukan dari pengunjung.

“Kalau kita berhitung 10 ribu pengunjung saja. Kita sudah rugi Rp 100 juta. Padahal, tiap tahun trennya meningkat,” kata Kusharto, Sabtu (7/10).

Padahal, pendapatan pengelola Curug Cipendok itu tak hanya dari tiket. Kunjungan wisatawan mampu menggerakkan fasilitas wisata lainnya. Misalnya, persewaan vila atau penginapan di area bersuhu sejuk tersebut. Dalam kondisi normal, terutama di akhir pekan dan hari libur, penginapan di Curug Cipendok selalu penuh.

“Kalau jadi sepi ya otomatis tidak ada yang menginap juga,” jelas dia.

Ketiadaan pengunjung ini, menurut dia, juga berimbas pada mata pencaharian masyarakat yang menggantungkan pendapatannya dari sektor pariwisata. “Justru ini yang harus dipikirkan. Masyarakat lah yang paling terdampak karena Curug Cipendok tidak lagi dikunjungi wisatawan,” imbuhnya.

Dia meminta agar pelaksana proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden memberikan ganti rugi kepada masyarakat yang selama berbulan-bulan kehilangan mata pencaharian. Dia menyebut, puluhan masyarakat setempat menggantungkan hidupnya pada kunjungan wisata Cipendok.

“Ada yang menjadi tukang parkir, berjualan kopi dan makanan kecil, pemandu wisata, dan sebagainya. Justru itu yang harus dipikirkan,” ujarnya.

Lebih dari itu, pelaksana proyek PLTP, menurut dia, harus melakukan langkah-langkah taktis untuk menanggulangi dan menyelamatkan alam akibat dampak proyek tersebut. Menurut dia, konservasi alam menjadi kewajiban pelaksana proyek, sembari menanggulangi dampak-dampak yang kini sudah terjadi.

Dia mengakui, beberapa hal telah dilakukan oleh pelaksana PLTP. Antara lain, dengan memasang membran atau penyaring air keruh di beberapa tempat. Namun, kala hujan deras terjadi daerah hulu, membran itu tak mampu menyaringnya.

“Jadi air bisa keruh pekat kalau hujan deras. Tidak ada yang mau berkunjung karena airnya kotor,” tandasnya.

Sementara, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko mengemukakan, ia bakal mengusulkan kepada pelaksana proyek untuk memasang alat-alat penanggulangan dampak ekpplorasi lebih banyak. Bahkan, jika diperlukan, sediment ponds (penampung lumpur) dan membran penyaring itu dijadikan sebagai wisata pengetahuan penanggulangan dampak kepada lingkungan yang disebabkan oleh sebuah proyek.

“Membran bisa dipasang sebagai objek wisata. Tujuannya untuk belajar bagaimana menanggulangi dampak lingkungan,” ujar Deskart.

Dia menambahkan, pihaknya juga bakal membuatkan arena wisata baru di kawasan ini. Beberapa yang potensial adalah fover tubing atau berselancar menggunakan ban dalam bekas, yang akhir-akhir ini menjadi tren hampir di seluruh wilayah. Dengan begitu, ketika dampak proyek itu bisa tertanggulangi, maka Curug Cipendok justru memiliki sesuatu yang baru.

“Kita prihatin. Tetapi, dari keprihatinan itu, bagaimana kita membuat ini lebih baik di masa depan,” tegasnya.




Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Rosyid