GATRANEWS  | BOLA | CARSPLUS |

Festival Lereng Telomoyo Bangkitkan Ekonomi Kreatif Desa Tanon

04 October 2017
Sendera tari dari masyarakat desa yang khusus ditampilkan saat tamu berkunjung ke Desa Tanon pada acara Festival Lereng Telomoyo. Festival ini diharapkan dapat menjadi magnet dan kalender even tahunan di Kabupaten Semarang, sehingga mampu mengangkat pamor wisata budaya di kawasan Lereng Telomoyo dan kawasan Gunung Merbabu. (GATRACOM/Dok. AI)

Semarang, gatra.com - Desa Wisata Tanon atau yang lazim dijuluki sebagai 'Desa Menari', untuk pertama kalinya menggelar Festival Lereng Telomoyo Kampung Berseri Astra Tanon Ngrawan, Semarang, Sabtu-Minggu (30/9-1/10) lalu. Even ini diharapkan dapat menjadi magnet dan kalender event tahunan di Kabupaten Semarang, sehingga mampu mengangkat pamor wisata budaya di kawasan Lereng Telomoyo dan kawasan Gunung Merbabu.



Even ini diisi dengan berbagai kegiatan tradisional khas wilayah setempat. Selain merekatkan para pekerja seni di Kabupaten Semarang, Festival Lereng Telomoyo juga diharapkan dapat menggerakkan ekonomi kreatif di wilayah tersebut.

Berlangsung selama dua hari, aneka seni yang ditampilkan seperti dolanan tradisional, pementasan teater, pentas kesenian rakyat dan sarasehan budaya. Festival tersebut mendapatkan respon positif dari masyarakat sekitar.

Diikuti oleh 13 desa di Kecamatan Getasan dan 1 desa di Kecamatan Tengaran, serta mahasiswi seni Universitas Negeri Semarang dan Teater Sirat IAIN Surakarta, Festival Lereng Telomoyo yang diinisiasi oleh Trisno, salah satu penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards 2015 kategori Lingkungan, merupakan festival dolanan tradisional pertama di Kabupaten Semarang.

Menurut Trisno, festival ini dihelat karena akan menjadi yang pertama di Kabupaten Semarang. Sebaliknya, festival budaya merupakan sesuatu yang umum dan sudah sering dilakukan.

"Kami berharap festival ini akan membangkitkan kembali makna kearifan lokal yang mulai pudar. Karena itulah yang menjadi cikal bakal kami dalam membangun Desa Menari,” ungkap Trisno, dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/10) lalu.

Anak-anak bermain permainan tradisional pipa bocor. (GATRACOM/Dok. AI)

Trisno adalah contoh pemuda yang menjadi teladan bagi kampungnya dan berhasil menjadi inspirasi. Pria kelahiran 12 Oktober 1981 ini mulai mengembangkan Desa Menari sejak tahun 2009. Trisno mengakui desanya dulu kumuh, miskin, bahkan sering menjadi olok-olok daerah sekitar.

Ia bahkan mengatakan dulu ada paradigma di desa-desa sekitar untuk tidak menikah dengan orang yang berasal dari Kampung Tanon karena mereka miskin dan kemiskinannya dianggap dapat menular. Trisno berhasil mengubah paradigma tersebut dan menjadikan Desa Tanon menjadi sebuah desa wisata.

Awalnya, desa yang dihuni oleh 43 kepala keluarga dan 143 jiwa itu sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan peternak sapi perah. Desa yang semula sepi dan sulit dijangkau, kini semakin ramai dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Namun, sejak Trisno menerima SATU Indonesia Awards pada 2015, desa wisata di bawah kaki Gunung Telomoyo yang berhawa sejuk ini semakin banyak dikunjungi turis domestik dari dalam maupun luar Pulau Jawa.

Bahkan, desa ini juga pernah didatangi turis dari Mesir, Filipina, serta 32 orang turis dari Singapura, Belanda, Rusia dan Perancis. Kehadiran mereka pun 'dijamu' dengan berbagai paket kunjungan wisata, mulai dari pagelaran seni, outbound ndeso, hingga dolanan tradisional dan wisata pembelajaran.


Editor: Toha