Print this page

Marlinda Irwanti Akan Bangun Kampung Literasi di Desa Kembang Langit Jateng

16 March 2017

Jakarta, GATRAnews - Anggota Komisi X DPR RI Marlinda Irwanti mengatakan, desa wisata Desa Kembang Langit, di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, merupakan kawasan wisata tempat menimba ilmu pengetahuan. Selain itu, pengunjung bisa melakukan selfie (swafoto) dengan latar panorama alam nan indah. Hal itu dikatakan Marlinda, di Jakarta, Rabu (15/3), seusai kunjungan kerja di masa reses ke desa wisata tersebut.

Menurutnya, kebun karet milik Perhutani yang awalnya kerap dijadikan tempat mesum pasangan muda dan tempat minum minuman keras (miras), diubah menjadi tempat selfie dengan mematok tarif Rp 3.000 per orang.
 
Sedangkan untuk meningkatkan pengetahuan, Marlinda, yang dulu dikenal sebagai Linda Poernomo, sewaktu menjadi presenter berita TVRI, berencana membangun kampung literasi di sana. Pendirian kampung literasi itu juga untuk meningkatkan minat baca masyarakat yang masih rendah sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
 
"Di kampung literasi orang bisa membaca sambil selfie atau menikmati pemandangan, karena akan dibangun perpustakaan dalam bentuk rumah pohon," ujar politisi Partai Golkar itu.

Linda berpendapat, perpustakaan biasanya didesain kurang menarik sehingga orang enggan untuk datang. Ia meyakini perpustakaan di rumah pohon tersebut akan mampu menarik orang untuk datang berwisata sekaligus membaca buku.

Menurutnya, ini merupakan upaya meningkatkan minat baca masyarakat yang disebut Survei Unesco pada 2012 berada diperingkat 60 dari 61 negara yang disurvei, dengan indeks minat baca hanya 0,001 dari 1000 penduduk atau setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca.

Karena itu, harus meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia menggunakan cara-cara yang menarik. Tingginya minat bawa masyarakat akan menjadi modal dalam mengadapi persaingan ketat di era global.

Sedangkan untuk pengembangan desa wisata di Desa Kembang Langit, Linda mengapresiasi inovasi yang dilakukan para pemuda di desa tersebut. Pembangunan desa wisata memerlukan inovasi agar tidak seperti orang latah yang hanya mengikuti tren.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief