GATRANEWS  | BOLA | CARSPLUS |

Mengenal Sabang: Mutiara Bahari Indonesia Bagian Barat

17 Oktober 2016
Sabang (Dok: PesonaIndonesia.travel)

Jakarta, GATRAnews - Kota Sabang saat ini menjelma menjadi mutiara wisata bahari di bagian barat Indonesia. Ratusan jenis ikan dan terumbu karang alami membentang luas bak karpet bawah laut. Perairan ini juga titik pertemuan antara Samudera Hindia dan Selat Malaka. 

Kota Sabang berdiri di atas Pulau Weh yang memiliki luas 156,3 km. Pulau ini dipisah oleh Selat Benggala dengan daratan Provinsi Aceh. Perairan di Sabang merupakan pertemuan antara Samudra Hindia dan Selat Malaka. 


Tak berlebihan Sabang dijuluki mutiara bahari Indonesia bagian barat, karena memiliki serta menawarkan keelokan garis pantai yang indah, air laut biru dan bersih serta pepohonan nan hijau. Event berkelas dunia pun rutin digelar di Sabang, sebut saja Sabang International Regatta. 

Perairan Sabang berbatasan langsung dengan tiga negara, yakni India, Malaysia dan Thailand. Sabang adalah titik nol kilometer Indonesia di bagian barat, sehingga tercetuslah kata 'Dari Sabang Sampai Merauke'. 

Selain wisata bahari saja dapat ditemukan di Sabang, Gunung, danau serta hutan alam yang masih terjaga menunggu dikunjungi pelancong. Masyarakat Sabang yang ramah dan selalu tersenyum siap menyambut wisatawan yang berkunjung. 

Sabang terdiri dari yakni Pulau Weh sebagai pulau terbesar, Pulau Rubiah, Pulau Klah, Pulau Seulako, dan Pulau Rondo. Jumlah penduduknya sekitar 26.000 jiwa tersebar di dua kecamatan. Meliputi dataran rendah, tanah bergelombang, berbukit dan bergunung, serta batu-batuan di sepanjang pantai.

Pariwisata Sabang sempat terhenti karena status darurat militer di Aceh sejak tahun 2004. Namun setelah konflik bersenjata tersebut selesai, Sabang mulai kembali berdenyut dari sisi ekonomi serta pariwisata. 

Jauh sebelum 'Si Mutiara Bahari' Indonesia bagian barat menggeliat, Pulau Weh merupakan tempat pengasingan bagi mereka yang dihukum kerajaan karena melakukan pelanggaran berat. Berasal dari kata 'geupeuweh' yang berarti terpisah. 

Sementara Sabang berasal dari Bahasa Aceh yakni Saban yang memiliki arti sama hak dan kedudukan dalam segala hal. Masyarakat Sabang sudah lama mengenal toleransi dan saling menghormati karena berasal dari berbagai daerah. Asimilasi budaya pun sudah sejak ratusan tahun terjadi secara alami di Sabang. 

Era kolonial, Sabang menjelma menjadi kota pelabuhan alam atau Kolen Station di tahun 1881. Nama Sabang semakin tersohor seantero nusantara dan dunia setelah menjadi pelabuhan bebas tahun 1895 yang dikelola Sabang Maatschaappij. 

Era pendudukan Jepang, Sabang bermetamorfosis menjadi basis maritim Angkatan Laut Jepang sejak tahun 1942. Kerusakan fisik pulau ini semakin parah setelah Pasukan Sekutu membombardirnya sehingga membuat Sabang pun ditutup. Barulah setelah masa kemerdekaan Sabang ditetapkan sebagai pusat Pertahanan Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS) dan semua aset Pelabuhan Sabang Maatschaappij dibeli Pemerintah Indonesia.

Tahun 1965 dibentuk pemerintahan Kotapraja Sabang dan dirintis upaya untuk membuka kembali Sabang Pelabuhan Bebas dan Kawasan Perdagangan Bebas. Upaya ini baru resmi dikukuhkan tahun 2000. Aktifitas Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas Sabang pun mulai berdenyut dengan masuknya barang-barang dari luar negeri ke Kawasan Sabang.

 

--

 

Temukan Pesona Sabang lainnya di pesonaindonesia.travel

Follow twitter Indonesia.Travel (@indtravel)

Facebook Indonesia.Travel (@indonesiatravel)

Instagram Indonesia Travel (@indtravel)