GATRANEWS  | BOLA | CARSPLUS |

Mengintip Sukses Bisnis Pariwisata Negeri Gingseng

13 November 2016
Salah satu lokasi Wisata di Korea Selatan.  (Instagram wurindari sujatmiko @uwiesyalala)
Salah satu lokasi Wisata di Korea Selatan. (Instagram wurindari sujatmiko @uwiesyalala)

Jakarta, Gatranews - Mata Wulandari Sujatmiko (28 tahun) mendadak cerah. Kedua pupil mata dan sikap tubuhnya menjadi sedia saat drama Korea favoritnya menjelang tayang di relevisi swasta tanah air. Saat itu mungkin medio 2005 ketika invasi drama asal Korea Selatan mulai menarik hati masyarakat Indonesia. Sebut saja diantaranya drama Korea Full House, Endless Love, dan Winter Sonata yang jadi tontonan orang Indonesia, begitu pun dengan Uwie - panggilan Wurindari.

 

Momen jatuh cinta Uwie tak hanya pada drama Korea, tapi juga band-band asal negeri Ginseng. Meski dara berambut paniang ini mengaku tak ada drama Korea maupun band tertentu yang menjadi idolanya.

 

"Gua nggak ada band favorit. Dengerin lagu sesuai lagunya aja. Kalau bagus ya didengerin, terutama yang ballad. Sama dramanya juga gitu," kata Uwie saat dihubungi Gatra lewat surel Minggu (13/11/16).

 

Kegandrungannya terhadap Korea dilanjutkan dengan bekerja di Olleh4u, salah satu perusahaan Korea yang ada di Indonesia. Ia juga banyak memiliki teman asal Korea di Indonesia. Ini membuat ia mengambil les bahasa Korea. Tapi itu saja tak cukup baginya.

 

Sudah hampir setahun perempuan kelahiran 9 November ini melanjutkan studi di Languange Centre, Soongsil University, Korea Selatan. Biayanya ia tanggung sendiri, tanpa beasiswa. "Mau belajar bahasa Korea sekaligus jalan-jalan disana," begitu alasannya.

 

Bagi Uwie, orang-orang Korea punya motto pali-pali. Pali-pali berarti cepat. "Mereka nggak boleh telat. Mereka disiplin banget soal uang dan waktu," kata Uwie. Sebagai seorang muslim, ia mengaku agak kesulitan mencari makanan halal. Tetapi semenjak Korea menetapkan diri sebagai Halal Korea, jumlah kunjungan wisatawan muslim meningkat.

 

Pada tahun 2015, jumlah wisatawan muslim sekitar 740 ribu orang. Hal ini didukung dengan hadirnya aplikasi Halal Korea sebagai referensi bagi wisatawan muslim mencari makanan halal dan tempat ibadah juga arah kiblat untuk melaksanakan salat.

 

Sehari-hari, Uwie tinggal dan banyak beraktivitas di Seoul, yang sudah menjadi ibukota Korea Selatan selama lebih dari 600 tahun. Penetapan Seoul sebagai ibukota sudah sejak era Dinasti Joseon (1392-1910). Pada masa Dinasti Joseon, Seoul punya nama lain Hanyang.

 

Seoul terbagi dalam dua wilayah yakni Selatan dan Utara. Pembagian ini mengikuti aliran sungai Hangang. Seoul bagian utara merupakan kawasan budaya dan sejarah. Sementara Seoul bagian selatan merupakan kawasan bisnis.

 

Pariwisata Korea Selatan, khususnya Seoul maju pesat sejak tahun 2002 hingga kini. Pada tahun 2002, kenaikan tingkat kunjungan pariwisata Seoul didompleng saat Korea Selatan bersama Jepang terpilih menjadi pelaksana piala dunia. Hingga kemudian faktor K-Pop yang diikuti pesatnya industri fashion dan kecantikan menjadi daya tarik wisatawan mancanegara berkunjung ke Korea Selatan.

 

Berdasarkan data Master Card, Seoul masuk urutan ke-9 kota yang paling banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Seoul pada 2015 sekitar 12,3 juta orang.

 

Harmonisasi pariwisata antara budaya tradisional dan modern dikemas sangat baik oleh otoritas pariwisata di Seoul. Beberapa tempat tujuan populer di Seoul diantaranya Myengdong, Pasar Dongdaemun, Istana Gyeoung Bokgung, dan Namsan Tower.

 

"Oleh pemerintah itu dijadikan satu paket industri pariwisata lengkap," imbuh Uwie. Misalnya saja untuk memasarkan produk kosmetik digunakan artis-artis Korea yang sedang digandrungi banyak orang untuk menjadi model. Hal ini mendorong minat fans untuk datang membeli produk kecantikan tersebut.

 

Selain itu, pemerintah juga aktif menyelenggarakan berbagai festival sepanjang tahun untuk menarik wisatawan. Lainnya juga tersedia paket wisata drama Korea tertentu. "Biasanya dari drama-drama terkenal dibuat paket wisata ke lokasi syuting," cerita Uwie.

 

Soal wisata budaya, pemerintah juga beri perhatian lebih. Peninggalan budaya dan bangunan seperti istana dibuat kekinian dan tak kuno. "Pengunjung bisa pakai baju khas Korea atau Hanbok. Jadi wisatawan berasa kayak di zaman itu."

 

Selain itu juga ada wisata untuk belajar tata krama Korea atau belajar menulis aksara Korea hingga tarian Korea. Menurut Uwie, harmonisaasi antara budaya tradisional dan modern berpadu baik dan terkemas menarik oleh pemerintah. Inilah yang membuat pariwisata ke negeri ginseng laris manis di mata wisatawan.


Reporter: Fitri Kumalasari

Editor: Dani Hamdani