GATRANEWS  | BOLA | CARSPLUS |

Melihat Ragam Budaya Indonesia di Museum Etnologi Vatikan

05 December 2015

Vatikan, GATRAnews – Menteri Pariwisata Arief Yahya mengunjungi Italia beberapa waktu lalu. Kunjungan itu merupakan sosialisasi pariwisata Indonesia ke negara Uni Eropa, selain belajar mengemas pariwisata Indonesia.


Dalam rlisnya, Kamis (3/12), Menpar Arief Yahya Kepala Pemerintahan Cardinal Giuseppe Bertello mengajak Menpar Arief Yahya berkeliling ke Museum Etnologi itu dan menempatkan Indonesia di posisi yang amat terhormat.

Di Gallery Kebudayaan Indonesia itu hampir 15 menit, Menpar Arief Yahya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sambil berdecak kagum. Begitu memasuki ke ruang Museo Etnologico Musei Vaticani patung Suku Asmat bercorak primitive dari Papua menyambut Menpar Arief Yahya.
 
 “Jangan heran setiap tahun tak lebih dari 6 juta turis mengunjungi tempat ini,” kata Menpar Arief Yahya saat mendapat informasi dari Kepala Pemerintahan Cardinal Giuseppe Bertello.

Lalu pemandu mengajak rombongan Menpar Arief melintasi beberapa karya seni patung Indian-Amerika, pakaian adat PNG. Ruangan itu memang didesain dengan lighting yang agak temaram, untuk menjaga suhu dan kelembaban museum, agar koleksi karya seni budaya dari berbagai negara di dunia itu tetap awet.

Hati Menpar Arief Yahya pun semakin luluh, begitu melihat sepanjang koridor sebelah kiri, dari ujung ke ujung, ternyata Indonesia Permanent Exhibition Area.

Petak pertama, Menpar kaget dengan penjor Bali, janur melengkung dengan berbagai hiasan di ujungnya, dan biasa dipakai dalam upacara adat di Pulau Dewata. Lalu Menpar mendapat sambutan pajangan wayang kulit dengan sketsel atau pembatas ruangan ala Jawa.

Pemilihan model tokoh wayang itu cukup strategis dan pas untuk menjadikan ajang pameran dan diplomasi di Vatikan. Kental dengan unsur budaya, kaya filosofi dan hubungan internasional.

Satu petak lagi, membuat Menpar Arief Yahya terkesima oleh replika Borobudur dari batu hitam yang detail, dengan ratusan stupa, dan simetris di empat sisi. Ruang outdoor di balik dinding kaca itu, di luar ada cuplikan beberapa relief Borobudur dari cetakan batu yang berwarna cokelat mediterania. Relief itu sumbangan dari Pemerintah Belanda, tahun 1920, jauh sebelum Indonesia Merdeka.

Di sebelah kanan koridor, ada Al-Quran terkecil di dunia yang hanya seukuran dua tuts personal computer, yang hanya bisa terbaca tulisannya dengan kaca pembesar. Sebelah kirinya ada cangkang atau bungkusnya. Al-Quran berada dalam kompartemen yang sama dengan beberapa replica Rumah Gadang, rumah tradisional Minangkabau yang dibuat dari silver atau perak putih.

“Museum tempat pameran ini temanya adalah harmoni kehidupan manusia yang beragam, dari berbagai latar belakang kebudayaan dan tradisi. Museum ini menjadi tempat yang menarik, karena berada di Vatikan, negara terkecil dengan 842 jiwa, yang dikunjungi jutaan orang dari berbagai negara,” kata Menpar Arief.

Masih ada lagi, barang-barang ukit khas Indonesia, seperti tameng suku Asmat Papua dan alat pertahanan suku Dayak yang dijadikan hiasan tembok dengan desain primitive dan warna-warga cokelat gelap.

Di bawah peta besar Indonesia itu, ada beberapa koleksi batik khas Solo, lurik (batik) Jogja, dan keris, yang semuanya sudah dicatat sebagai warisan budaya oleh UNESCO. Dan di ujung Indonesia Corner seluas 400 meter persegi itu, ada vertical banner “Wonderful Indonesia” dengan tema “Indonesia the land of harmony.”

“Kami berterima kasih diberi tempat yang luas, istimewa dan permanen di Museum Vatikan. Ini akan pas untuk menjaring di kolam ikan. Ada 6 juta orang, jadi ikannya sudah ngumpul di museum itu,” jelas Menpar Arief Yahya.


Reporter: Wanto
Editor: Arief Prasetyo